Nothing Special   »   [go: up one dir, main page]

Prestasi Belajar Siswa

Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 13

PRESTASI BELAJAR SISWA, PENGERTIAN DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

PRESTASI BELAJAR SISWA

Pengertian Prestasi
Prestasi Belajar  tidak  dapat  dipisahkan  dari  kegiatan  belajar, karena  belajar 
merupakan  suatu  proses,  sedangkan  prestasi  belajar adalah  hasil  dari 
proses  pembelajaran  tersebut.  Bagi  seorang  anak belajar  merupakan  suatu 
kewajiban.  Berhasil  atau  tidaknya  seorang anak  dalam  pendidikan 
tergantung  pada  proses  belajar  yang  dialami oleh anak tersebut.

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan.
Gagne (1985:40) menyatakan bahwa Prestasi Belajar dibedakan menjadi lima
aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap
dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa
hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik.

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik
secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 1994:19).

Kata  prestasi  berasal  dari  bahasa  Belanda “Prestasic” yang berarti  hasil 
usaha.  Dalam  kamus  besar  Bahasa  Indonesia  Prestasi
Belajar   didefinisikan  sebagai  hasil  penilaian  yang  diperoleh  dari kegiatan 
persekolahan  yang  bersifat  kognitif  dan  biasanya  ditentukan melalui
pengukuran dan penilaian.

Menurut  Wikipedia  Prestasi berasal dari bahasa Belanda yang artinya hasil


dari usaha. Prestasi diperoleh dari usaha yang telah dikerjakan. Dari pengertian
Prestasi tersebut, maka pengertian Prestasi diri adalah hasil atas usaha yang
dilakukan seseorang. Prestasi dapat dicapai dengan mengandalkan
kemampuan intelektual, emosional, dan spiritual, serta ketahanan diri dalam
menghadapai situasi segala aspek kehidupan.  Karakter orang yang berPrestasi
adalah mencintai pekerjaan, memiliki inisiatif dan kreatif, pantang menyerah,
serta menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh. Karakter-karakter tersebut
menunjukan bahwa untuk meraih Prestasi tertentu, 

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan.
Gagne (1985:40) menyatakan bahwa Prestasi Belajar  dibedakan menjadi lima
aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap
dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa
hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan
psikomotorik.
Prestasi merupakan kecakapan atau hasil kongkrit yang dapat dicapai pada saat
atau periode tertentu. Berdasarkan pendapat tersebut, Prestasi dalam penelitian
ini adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam proses pembelajaran.

Pengertian Belajar
Belajar adalah aktifitas mental atau (Psikhis) yang terjadi karena adanya
interaksi aktif antara ndividu dengan lingkungannya yang menghasilkan
perubahan-perubahan yang bersifat relativ tetap dalam aspek-aspek : kognitif,
psikomotor dan afektif. Perubahan tersebut dapat berubah sesuatu yang sama
sekali baru atau penyempurnaan / penigkatan dari hasil belajar yang telah di
peroleh sebelumnya.

Untuk memahami tentang pengertian belajar di sini akan diawali dengan


mengemukakan beberapa definisi tentang belajar. Ada beberapa pendapat para
ahli tentang definisi tentang belajar. Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni
(2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari
pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar
merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling
terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.

Cronbach, Harold Spears dan Geoch dalam Sardiman A.M (2005:20) sebagai
berikut :
1)   Cronbach memberikan definisi :“Learning is shown by a change in  behavior as
a result of experience”.“Belajar adalah memperlihatkan perubahan dalam
perilaku sebagai hasil dari pengalaman”.
2)   Harold Spears memberikan batasan:“Learning is to observe, to read, to initiate,
to try something themselves, to listen, to follow direction”.Belajar adalah
mengamati, membaca, berinisiasi, mencoba sesuatu sendiri, mendengarkan,
mengikuti petunjuk/arahan.
3)   Geoch, mengatakan : “Learning is a change in performance as a result of
practice”. Belajar adalah perubahan dalam penampilan sebagai hasil praktek.

Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian


belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka
ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies),
keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan
berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses
belajar sepanjang hayat.

Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal
batas usia, dan berlansung seumur hidup (long live educational). Belajar
merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalu interaksi dengan
lingkungannya untuk merubah perilakunya. Dengan demikian hasil dari kegiatan
belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relative permanen pada diri
orang yang belajar, perubahan tersebut diharapkan adalah perubahan perilaku
positif.

Belajar dapat didifensikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan
berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan
keadaan bahwa karaktarestikkaraktarestik dari perubahan aktivitas tersebut tidak
dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli,
kematangan, atau perubahan sementara dari organisme. (Learning is theprocess
by which an activity that the characteristics of the change in activity cannot be
explained on the basis of native response tendencies, maturation, and temporary
states of the organism) (Hilgard & Bower, 1996:2, dalam Jogiyanto, 2006:12).

Dari beberapa pengertian/definisi diatas dapat disimpulkan bahwa belajar itu


senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan
serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan,
meniru dan lain sebagainya. Juga belajar itu akan lebih baik kalau si subyek
belajar itu mengalami atau melakukannya, jadi tidak bersifat verbalistik. Belajar
sebagai kegiatan individu sebenarnya merupakan rangsangan-rangsangan
individu yang dikirim kepadanya oleh lingkungan. Dengan demikian terjadinya
kegiatan belajar yang dilakukan oleh seorang idnividu dapat dijelaskan dengan
rumus antara individu dan lingkungan.

Menurut  Udin S. Winataputra (1995:2) dikemukakan bahwa learning (belajar)


mengandung pengertian proses perubahan yang relative tetap dalam perilaku
individu sebagai hasil dari pengalaman. Pengertian belajar juga dikemukakan
oleh Slameto (2003:2) yakni belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya.

Selaras dengan pendapat-pendapat di atas, Thursan Hakim (2000:1)


mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam
kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk
peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan,
pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dll. Hal ini
berarti bahwa peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seseorang
diperlihatkan dalam bentuk bertambahnya kualitas dan kuantitas kemampuan
seseorang dalam berbagai bidang. Dalam proses belajar, apabila seseorang
tidak mendapatkan suatu peningkatan kualitas dan kuantitas kemampuan, maka
orang tersebut sebenarnya belum mengalami  proses belajar atau dengan kata
lain ia mengalami kegagalan di dalam proses belajar.
Pengertian Prestasi Belajar

Setiap pendidik tentu sangat mengharapkan anak didiknya agar berprestasi


seoptimal mungkin baik pada jalur akademik maupun non akademi. Prestasi
memiliki pengertian yang sangat luas. Apabila peserta didik dapat mencapai cita-
cita atau minimal dapat menyelesaikan tugas dari guru maupun orang lain maka
ia disebut berprestasi.

Prestasi Belajar banyak diartikan sebagai seberapa jauh hasil yang telah
dicapai siswa dalam penguasaan tugas-tugas atau materi pelajaran yang
diterima dalam jangka waktu tertentu. Prestasi Belajar pada umumnya
dinyatakan dalam angka atau huruf sehingga dapat dibandingkan dengan satu
kriteria (Prakosa, 1991).

Prestasi Belajar Siswa  adalah  hasil  yang  telah  dicapai  dari  yang  telah
dilakukan/dikerjakan  (Kamus  Besar  Bahasa  Indonesia,  2003:  895),
sedangkan  menurut  Tu’u  (2004:75)  prestasi  belajar  adalah penguasaan
pengetahuan  atau  keterampilan  yang  dikembangkan  oleh  mata pelajaran, 
lazimnya  ditunjukkan  dengan  nilai tes  atau  angka  nilai  yang diberikan  oleh 
guru.  Menurut  Sukmadinata  (2003:  101),  “Prestasi Belajar   adalah  realisasi 
atau  pemekaran  dari  kecakapa-kecakapan potensial atau kapasitas yang
dimiliki seseorang”.

Prestasi Belajar kemampuan seorang dalam pencapaian berfikir yang tinggi.


Prestasi Belajar harus memiliki tiga aspek, yaitu kognitif, affektif dan
psikomotor. Prestasi Belajar adalah hasil yang dicapai sebaik-baiknya pada
seorang anak dalam pendidikan baik yang dikerjakan atau bidang
keilmuan. Prestasi Belajar dari siswa adalah hasil yang telah dicapai oleh siswa
yang didapat dari proses pembelajaran. Prestasi Belajar adalah hasil
pencapaian maksimal menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap
sesuatu yang dikerjakan, dipelajari, difahami dan diterapkan.

Winkel (1996:226) mengemukakan bahwa Prestasi Belajar merupakan bukti


keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka Prestasi Belajar
merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan
usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arif Gunarso (1993 : 77)
mengemukakan bahwa Prestasi Belajar adalah usaha maksimal yang dicapai
oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar.

Prestasi Belajar di bidang pendidikan adalah hasil dari pengukuran terhadap


peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah
mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes
atau instrumen yang relevan. Jadi Prestasi Belajar adalah hasil pengukuran dari
penilaian usaha belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, huruf maupun
kalimat yang menceritakan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak pada
periode tertentu. Prestasi Belajar merupakan hasil dari pengukuran terhadap
peserta didik yang meliputi faktor kognitif, afektif dan psikomotor setelah
mengikuti proses pembelajaran yang diukur dengan menggunakan instrumen tes
yang relevan.

Prestasi Belajar dapat diukur melalui tes yang sering dikenal dengan tes
Prestasi Belajar. Menurut Saifudin Anwar (2005 : 8-9) mengemukakan tentang
tes Prestasi Belajar bila dilihat dari tujuannya yaitu mengungkap keberhasilan
sesorang dalam belajar. Testing pada hakikatnya menggali informasi yang dapat
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Tes Prestasi Belajar berupa
tes yang disusun secara terrencana  untuk mengungkap performasi maksimal
subyek dalam menguasai bahan-bahan atau materi yang telah diajarkan. Dalam
kegiatan pendidikan formal tes Prestasi Belajar dapat berbentuk ulangan
harian, tes formatif, tes sumatif, bahkan ebtanas dan ujian-ujian masuk
perguruan tinggi.Pengertian Prestasi Belajar adalah sesuatu yang dapat dicapai
atau tidak dapat dicapai. Untuk mencapai suatu Prestasi Belajar siswa harus
mengalami proses pembelajaran. Dalam melaksanakan proses pembelajaran
siswa akan mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan.

Maryanto (dalam Yulita, 2008) mengatakan bahwa seseorang yang telah


berusaha untuk mencapai tujuannya dan berhasil, maka orang itu dinyatakan
berprestasi. Lebih lanjut Maryanto menyatakan bahwa seseorang dinyatakan
berprestasi bila mampu memberikan sesuatu yang terbaik bagi orang lain,
mampu melakukan sesuatu dengan baik dalam segala hal, membuat impian
menjadi kenyataan dan mampu menghentikan kebiasaan buruk.

Prestasi belajar siswa adalah kecakapan yang sesungguhnya atau hasil yang
diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar pada periode tertentu
(Nurkancana, dalam Sukiaiyana 2003).

Menurut Purwadarminto (dalam Yulita, 2008) prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai sebaik-baiknya menurut kemampuan anak pada waktu tertentu terhadap
hal-hal yang dikerjakan atau dilakukan

Prestasi Belajar Siswa adalah hasil yang dicapai seseorang dalam


pengusasaan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam
pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan tes angka nilai yang diberikan oleh guru
( Asmara. 2009 : 11).
Menurut Hetika ( 2008: 23 ), Prestasi Belajar adalah pencapaian atau
kecakapan yang dinampakkan dalam keahlian atau kumpulan pengetahuan.
Sedangkan Harjati ( 2008: 43 ), menyatakan bahwa Prestasi merupakan hasil
usaha yang dilakukan dam menghasilkan perubahan yang dinyatakan dalam
bentuk simbol untuk menunjukkan kemampuan pencapaian dalam hasil kerja
dalam waktu tertentu.

Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan bahwa : Prestasi


Belajar  adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam
bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil
yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode tertentu.

Haditomo dkk (1980 : 4), mengatakan “Prestasi Belajar  adalah kemampuan


seseorang sebagai hasil belajar".  Dewa Ketut Sukardi (1983 : 51), menyatakan
“Untuk mengukur Prestasi Belajar  menggunakan tes prestasi yang dimaksud
sebagai alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai hasil belajar atau
learning”. Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), “Nilai merupakan
perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan
atau Prestasi Belajar  Siswa selama masa tertentu”. Dengan nilai rapor, kita
dapat mengetahui Prestasi Belajar  Siswa. Siswa yang nilai rapornya baik
dikatakan prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya jelek dikatakan Prestasi
Belajar nya rendah.

Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan


yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk
meningkatkan Prestasi Belajar yang baik perlu diperhatikan kondisi internal dan
eksternal. Kondisi internal dalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa,
seperti kesehatan, keterampilan, kemapuan dan sebaginya. Kondisi eksternal
adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang
bersih, sarana dan prasaran belajar yang memadai.

Pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh akan membentuk


kepribadian siswa, memperluas kepribadian siswa, memperluas wawasan
kehidupan serta meningkatkan kemampuan siswa. Bertolak dari hal tersebut
maka siswa yang aktif melaksanakan kegiatan dalampembelajaran akan
memperoleh banyak pengalaman. Dengan demikian siswa yang aktif dalam
pembelajaran akan banyak pengalaman dan Prestasi Belajarnya meningkat.
Sebaliknya siswa yang tidak aktif akan minim/sedikit pengalaman sehingga
dapat dikatakan Prestasi Belajarnya tidak meningkat atau tidak berhasil.
Pengertian tentang Prestasi Belajar. Prestasi Belajar diartikan sebagai tingkat
keterkaitan siswa dalam proses belajar mengajar sebagai Hasil evaluasi yang
dilakukan guru. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (1984 : 4), mengemukakan
bahwa : Prestasi Belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang
dinyatakan dalam bentuk symbol angka, huruf maupun kalimat yang dapat
mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak didik dalam periode
tertentu.

Menurut Siti Partini (1980 : 49), “Prestasi Belajar adalah hasil yang dicapai oleh
seseorang dalam kegiatan belajar”. Sejalan dengan pendapat dicapai oleh
seseorang dalam kegiatan belajar”. Sejalan dengan pendapat itu Sunarya
(1983 : 4) menyatakan “Prestasi Belajar merupakan perubahan tingkah laku
yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik yang merupakan ukuran
keberhasilan siswa”. Haditomo dkk (1980 : 4), mengatakan “Prestasi Belajar
adalah kemampuan seseoran Dewa Ketut Sukardi (1983 : 51), menyatakan
“Untuk mengukur Prestasi Belajar menggunakan tes Prestasi yang dimaksud
sebagai alat untuk mengungkap kemampuan aktual sebagai hasil belajar atau
learning”. Menurut Sumadi Suryabrata (1987 : 324), “Nilai merupakan
perumusan terakhir yang dapat diberikan oleh guru menganai kemajuan atau
Prestasi Belajar siswa selama masa tertentu”. Dengan nilai rapor, kita dapat
mengetahui Prestasi Belajar siswa. Siswa yang nilai rapornya baik dikatakan
Prestasinya tinggi, sedangkan yang nilainya jelek dikatakan Prestasi
Belajarnya rendah.

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa Prestasi Belajar
adalah keberhasilan yang dapat dicapai siswa yang terlihat dari
pengetahuan, sikap, dan keahlian yang dimilikinya.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Setiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang tentu ada faktor yang
mempengaruhinya, baik yang cenderung mendorong maupun menghambat.
Demikian juga yang dialami dalam belajar. Ahmadi, (dalam Yulita, 2008)
menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa,
diantaranya:

1) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, yang   terdiri
dari:
a) Faktor intelegensi
Dalam arti sempit intelegensi dapat diartikan kemampuan untuk mencapai
prestasi. Intelegensi memegang peranan penting dalam mencapai prestasi.
b) Faktor minat
Minat adalah kecendrungan yang mantap dalam diri seseorang untuk merasa
tertarik terhadap suatu tertentu.
c) Faktor keadaan fisik dan psikis
Keadaan fisik berkaitan dengan keadaan pertumbuhan, kesehatan jasmani,
keadaan alat-alat indera dan sebagainya. Keadaan psikis berhubungan dengan
keadaan mental siswa.

2) Faktor  eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dari luar diri peserta didik yang mempengaruhi
prestasi belajar.  Ada beberapa faktor eksternal yaitu:
a) Faktor Guru
Guru betugas membimbing, melatih, mengolah, meneliti, mengembangkan dan
menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar.
b) Faktor lingkungan keluarga
Keluarga sangat berpengaruh terhadap kemajuan prestasi belajar, karena
kebanyakan waktu yang dimiliki perserta didik ada di rumah. Jadi, banyak ada
kesempatan untuk belajar di rumah.
Keterlibatan orang tua patut diperhitungkan dalam usaha memelihara motivasi
belajar pesera didik. Dalam suatu studi mengenai prestasi belajar, ditemukan
hubungan yang kuat antara keterlibatan orang tua dan prestasi belajar (Haster
dalam Suwatra 2007).
c) Faktor sumber belajar
Sumber belajar dapat berupa media atau alat bantu belajar serta bahan buku
penunjang. Alat bantu belajar adalah semua alat yang dapat digunakan untuk
membantu siswa dalam belajar. Belajar akan lebih menarik, kongkret, mudah
dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasilnya lebih bermakna.

Sejalan dengan pendapat di atas, Dimyati Mahmud (1989 : 84-87), mengatakan


bahwa Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar siswa mencakup :
“faktor internal dan faktor eksternal”. sebagai berikut :

Faktor Internal
Faktor internal atau Faktor yang berasal dari siswa adalah faktor yang berasal
dari dalam diri siswa itu sendiri, yang terdiri dari N. Ach (Need For Achievement)
yaitu kebutuhan atau dorongan atau motif untuk berPrestasi. Faktor ini meliputi
motivasi, perhatian pada mata pelajaran yang berlangsung, tingkat peneirmaan
dan pengingatan bahan, kemampuan menerapkan apa yang dipelajari,
kemampuan mereproduksi dan kemampuan menggeneralisasi. Faktor internal
lain adalah :a.  fisiologi yang berupa kondisi fisik dan kondisi pancaindra, b. 
Psikologi yang berupa bakat, minat, kecerdasan, motivasi dan kemampuan
kognitif. 

Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar si pelajar. Hal ini dapat
berupa sarana prasarana, situasi lingkungan baik itu lingkungan keluarga,
sekolah maupun lingkungan masyarakat. Menurut pendapat Rooijakkersyang
diterjemahkan oleh Soenoro (1982 : 30), mengatakan bahwa “Faktor yang
mempengaruhi Prestasi Belajar adalah faktor yang berasal dari si pelajar, faktor
yang berasal dari si pengajar”. Faktor dari luar ini merupakan faktor yang berasal
dari luar si pelajar (siswa) yang meliputi : a. lingkungan alam dan lingkungan
social; b.  instrumentasi yang berupa kurikulum, guru atau pengajar, sarana dan
fasilitas serta administrasi.
Faktor dari dalam

Termasuk faktor eksternal meliputi kemampuan membangun hubungan dengan


si pelajar, kemampuan menggerakkan minat pelajaran, kemampuan memberikan
penjelasan, kemampuan menyebutkan pokok-pokok masalah yang diajarkan,
kemampuan mengarahkan perhatian pada pelajaran yang sedang berlangsung,
kemampuan memberikan tanggapan terhadap reaksi. Dari pendapat Rooijakkers
tentang faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar siswa dapat diberikan
kesimpulan bahwa Prestasi siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor yang
berasal dari diri pelajar dan faktor yang berasal dari si pengajar (guru).

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut di atas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa Prestasi belaajr siswa secara umum dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu faktor yang pertama berasal dari dalam diri siswa itu sendiri dan
faktor yang kedua berasal dari luar diri siswa yang sedang melakukan proses
kegiatan belajar.

Sejalan dengan di atas Slameto (2003: 54-72) juga mengungkapkan bahwa


faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Belajar banyak jenisnya, tetapi dapat
digolongkan menjadi dua, yaitu:
a.      Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar,
faktor intern terdiri dari: 1) Faktor jasmaniah (kesehatan dan cacat tubuh)
Faktor psikologis (inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan
kesiapan);2) Faktor kelelahan
b.      Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu. Faktor ekstern terdiri dari: 1)
Faktor keluarga (cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang  kebudayaan). 2) Faktor sekolah (metode mengajar guru, kurikulum,
relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat
pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan gedung,
metode belajar dan tugas rumah 3) Faktor masyarakat (kegiatan siswa dalam
masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat).
Ibrahim (dalam Sukiaiyana 2003) menyatakan bahwa prestasi belajar siswa
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: bahan yang akan dipelajari, faktor
lingkungan, faktor instrumental, dan kondisi pelajar.

Pendapat tersebut didukung oleh pendapat yang diungkapkan Suryabrata,


(dalam Surya Wijaya 2009) yang mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar siswa yaitu:
1) Faktor dari luar yang terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental.

2) Faktor dari dalam yang terdiri dari fisiologis (minat, bakat, kecerdasan, motivasi,
dan kemampuan kognitif).

Sedangkan Muhibbin Syah (2006: 144) mengungkapkan bahwa bahwa Prestasi


Belajar siswa dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor yakni:
a.      Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar,
faktor intern terdiri dari: 1) Faktor jasmaniah yang meliputi kesehatan dan cacat
tubuh; 2) Faktor psikologis yang meliputi tingkat inteligensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan dan kesiapan; dan 3) Faktor kelelahan.
b.      Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar individu. Faktor ekstern terdiri dari:1)
Faktor keluarga yaitu cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga,
suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, dan latar
belakang kebudayaan; 2) Faktor dari lingkungan sekolah yaitu metode mengajar
guru, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin
sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar belajar diatas ukuran, keadaan
gedung, metode belajar dan tugas rumah; 3) Faktor masyarakat yaitu kegiatan
siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan
masyarakat.
c.       faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar
siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan  pembelajaran  materi-materi pelajaran.
Berdasarkan pendapat di atas diperoleh kesimpulan bahwa prestasi  belajar
bukan saja dipengaruhi oleh siswa tetapi juga oleh faktor dari luar diri siswa.

Pada dasarnya sasaran belajar merupakan konsep penting dalam proses


pembelajaran. Secara teoritis sasaran pembelajaran mencakup tiga aspek yaitu
mengembangkan pengetahuan, sikap dan ketrampilan. Namun dalam
kenyataannya hal itu bukanlah suatu hal yang terpisah sama sekali. Maka dari itu
tidak tertutup kemungkinan untuk mengembangkan aspek-aspek tersebut secara
bersama dalam suatu unit pembelajaran.

Dalam penelitian Emrizal Amri dalam Yani Setyowati (2002:22) mengemukakan,


ada tiga jenis prestasi belajar, yaitu :
1) Total prestasi belajar, yaitu tingkat keberhasilan siswa dalam belajar secara
keseluruhan. Prestasi ini mencerminkan kemampuan siswa untuk mengingat
kembali fakta-fakta dan konsep-konsep serta memahami hubungan antara suatu
fakta dengan yang lainnya, suatu konsep dengan konsep lainnya, maupun
mengerti kaitan antara fakta dan fakta lain. Hal tersebut dideteksi melalui tingkat
kecepatan siswa menjawab seluruh pertanyaan dalam setiap unit pelajaran yang
telah dibahas.
2) Prestasi belajar mengingat fakta dan konsep, yaitu tingkat keberhasilan siswa
mempelajari suatu mata pelajaran, khususnya dalam aspek mengingat fakta dan
konsep. Prestasi ini adalah cerminan dari kemampuan siswa untuk mengingat
kembali. Hal ini diukur melalui menjawab pertanyaan yang bersifat faktual
3) Prestasi belajar memahami fakta dan konsep, yaitu keberhasilan siswa
mempelajari suatu mata pelajaran khususnya dalam aspek pemahaman fakta
dan konsep.Ini dicermikan melalui kemampuan siswa memahami.

Menurut Bloom dalam Dimyati dan Mudjiono (2006 : 26-27) mengklasifikasikan


prestasi belajar dalam tiga ranah, yaitu kognitif, afektif, danpsikomotorik. Prestasi
belajar dalam ranah kognitif terdiri dari enam kategori yaitu : pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
1) Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari
dan tersimpan dalam ingatan. Hubungan antara fakta dan konsep mata
pelajaran. Hal ini dideteksi melalui keberhasilan menjawab tes dalam aspek
pemahaman. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian,
kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2)    Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal
yang telah dipelajari 3) Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode
dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru, misalnya
menggunakan prinsip
4)   Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian
sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik, misalnya
mengurangi masalah menjadi bagian yang lebih kecil.
5)   Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru, misalnya
kemampuan menyusun suatu program kerja
6)   Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal
berdasarkan kriteria tertentu, misalnya kemampuan menilai hasil karangan.
Keenam jenis perilaku di atas bersifat hierarkis, artinya perilaku pengetahuan
tergolong rendah, dan perilaku evaluasi tergolong tertinggi.

Ranah afektif terdiri dari lima perilaku, yaitu penerimaan, partisipasi, penilaian
dan penentuan sikap, organisasi, dan pembentukan pola hidup.
1) Penerimaan, yang mencakup kepekaan tentang hal tertentu dan kesediaan
memperhatikan hal tersebut, misalnya kemampuan mengakui perbedaan
pendapat.
2) Partisipasi, yang mencakup kerelaan, kesediaan memperhatikan, dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan, misalnya mematuhi aturan, dan
berpartisipasi dalam suatu kegiatan.
3) Penilaian dan penentuan sikap, yang mencakup menerima suatu nilai,
menghargai, mengakui, dan menetukan sikap. Misalnya menerima suatu
pendapat orang lain
 4) Organisasi, yang mencakup kemampuan membentuk suatu sistem nilai sebagai
pedoman dan pegangan hidup. Misalnya menempatkan nilai dalam suatu skala
nilai dan dijadikan pedoman bertindak secara bertanggung jawab.
5) Pembentukan pola hidup, yang mencakup kemampuan menghayati nilai dan
membentuknya menjadi pola nilai kehidupan pribadi. Misalnya kemampuan
mempertimbangkan dan menunjukkan tindakan yang berdisiplin.
Kelima jenis perilaku tersebut tampak mengandung tumpang tindih dan juga
berisi kemampuan kognitif. Kelima jenis perilaku tersebut bersifat hierarkis.
Perilaku penerimaan merupakan jenis perilaku perilaku terendah dan perilaku
pembentukan pola hidup merupakan jenis perilaku tertinggi.

Menurut Simpson dalam Dimyati dan Mudjiono (2006 : 29-30) membagi ranah
psikomotorik menjadi tujuh jenis perilaku, yaitu : persepsi, kesiapan, gerakan
terbimbing, gerakan yang terbiasa, gerakan kompleks, penyesuaian pola
gerakan, dan kreativitas.
1) Persepsi, yang mencakup kemampuan memilah-milahkan (mendeskriminasikan)
hal-hal secara khas, dan menyadari adanya perbedaan yang khas tersebut.
Misalnya pemilahan warna, angka 6 (enam) dan 9 (sembilan).
2) Kesiapan, yang mencakup kemampuan penempatan diri dalam keadaan di mana
akan terjadi suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini mencakup
jasmani dan rohani. Misalnya posisi start lomba lari.
 3) Gerakan terbimbing, mencakup kemampuan melakukan gerakan sesuai contoh,
atau gerakan peniruan. Misalnya meniru gerak tari, membuat lingkaran di atas
pola.
 4) Gerakan yang terbiasa, mencakup kemampuan melakukan gerakangerakan
tanpa contoh. Misalnya melakukan lompat tinggi dengan tepat.
 5) Gerakan kompleks, yang mencakup kemampuan melakukan gerakan atau
ketrampilan yang terdiri dari banyak tahap, secara lancar, efisien, dan tepat.
Misalnya bongkar pasang peralatan secara tepat.
 6) Penyesuaian pola gerakan, yang mencakup kemampuan mengadakan
perubahan dan penyesuaian pola gerak-gerik dengan persyaratan khusus yang
berlaku. Misalnya ketrampilan bertanding.
7) Kreativitas, mencakup kemampuan melahirkan pola gerak-gerak yang baru atas
dasar prakarsa sendiri. Misalnya kemampuan membuat tari kreasi baru.

Ketujuh jenis perilaku tersebut mengandung urutan taraf ketrampilan yang


berangkaian. Kemampuan-kemampuan tersebut merupakan urutan fase-fase
dalam proses belajar motorik yang bersifat hierarkikal. Belajar berbagai
kemampuan gerak dapat dimulai dengan kepekaan memilah-milah sampai
dengan kreativitas pola gerak baru. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan
psikomotorik mencakup kemampuan fisik dan mental.

Anda mungkin juga menyukai