School Work, jurnal dan ekonomi">
Nothing Special   »   [go: up one dir, main page]

Jurnal Evaluasi Pendidikan

Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Unduh sebagai docx, pdf, atau txt
Anda di halaman 1dari 18

JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI INDONESIA

Vol. VIII. No. 1 Tahun 2009


Hal 63 - 80

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KREATIF-KRITIS


DALAM MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN BISNIS
PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI
FISE-UNY
Oleh
Ngadirin Setiawan, Ani Widayati, dan Sukirno1
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang dua hal pokok, yaitu: (1)
respon mahasiswa terhadap model pembelajaran kreatif-kritis, dan (2) peningkatan
prestasi belajar yang diperoleh mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran
kreatif-kritis
Subjek penelitian ini adalah seorang dosen pengampu mata kuliah Metodologi
Penelitian Bisnis, seorang dosen sebagai observer, dan seluruh mahasiswa yang
mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian Binis pada Program Studi Pendidikan
Akuntansi FISE UNY. Mahasiswa peserta
mata kuliah MPB ini terdiri dari dua
kelompok, yaitu mahasiswa program reguler dan program nonreguler semester genap
2007/2008 yang berjumlah 86 mahasiswa (Reguler = 41 orang dan Nonreguler = 45).
Hasil penelitian memberikan kesimpulan sebagai berikut: (1) respon mahasiswa
terhadap pembelajaran kreatif-kritis cenderung meningkat, hal ini dibuktikan dengan
banyaknya komentar positif dalam angket yang diedarkan pada mahasiswa peserta
kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan Akuntansi FISE UNY 2007 /
2008. Mahasiswa lebih giat dan bersemangat dalam belajar yang ditunjukkan dengan
adanya peningkatan prestasi belajar, dan (2) prestasi belajar mahasiswa dengan
menggunakan model pembelajaran kreatif-kritis meningkat. Hal tersebut ditunjukkan
dengan adanya peningkatan nilai rerata kelas. Nilai kelas yang dibagi dalam tiga
kategori menunjukkan peningkatan semua. Atau dapat dikatakan bahwa nilai teori, nilai
teori dan praktik, maupun nilai teori, praktik, dan lapangan meningkat dengan adanya
implementasi model pembelajaran kreatif-kritis.
Kata Kunci: Model pembelajaran, kreatif-kritis, metodologi penelitian bisnis .
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Selama ini permasalahan pembelajaran bagi mahasiswa secara umum,
khususnya pada Program Studi Pendidikan Akuntansi masih menjadi permasalah
aktual. Secara umum perkuliahan masih tampak didominasi peran dosen yang
berfungsi memberikan atau mentransmisikan pengetahuan pada mahasiswa. Dosen
1

Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta

dengan sejumlah pengetahuan telah dimiliki yang dikembangkan melalui studinya


menyampaikan pada mahasiswa secara final. Seolah-olah subtansi perkuliahan
yang disampaikan dosen merupakan suatu yang final dan mahasiswa menerima
begitu saja tanpa pemikiran yang kritis dan kreatif. Dosen yang bersifat otoritatif
cenderung memperkuat peran dosen sebagi pemberi dan mahasiswa sebagai
penerima (Friere, 2008). Mahasiswa memandang dosen sebagai dewa pengetahuan
yang seolah-olah tidak perlu dipertanyaan lagi kebenarannya. Banyak mahasiswa
yang masih merasa takut untuk bertanya, karena takut bersalah, atau takut
menderita rasa malu dihadapan banyak orang apabila mempertanyakan sesuatu
yang tidak tepat. Pengetahuan yang diterima mahasiswa tanpa adanya sikap
mempertanyakan (sikap kritis) menyebabkan sifat pasif terhadap kebenaran ilmu
pengetahuan. Ilmu pengetahuan seolah-olah menjadi sesuatu yang terjadi dalam
kehidupan yang dipahami oleh dosen, tetapi mahasiswa tidak melakukan assimilasi
dan transformasi (Piaget, yang ditulis Wadsworth, 1985) di dalam dirinya sehingga
ilmu pengetahuan yang diterima mahasiswa menjadi sekedar out-there knowledge
bukan in-here knowledge (Barnes, 2008). Pengetahuan semacam ini sekedar
bersifat diingat dan dihafal yang sewaktu-waktu digunakan sekedar untuk
menjawab pertanyaan dalam ujian yang dilaksanakan oleh dosen. Pengetahuan
semacam itu tidak dapat membangun kerangka (struktur) pemikiran sehingga
mahasiswa tidak dapat menggunakannya sebagai dasar bagi tindakannya.
Memperoleh pengetahuan dari luar (out-there) menjadi pengetahuan di dalam diri
(in-here) memerlukan mahasiswa sendiri melakukan transformasi. Fakta yang
terjadi di luar (dunia luar) dan difahami oleh dosen (guru) tidak berarti bahwa dia
dapat memberikan pengetahuan itu pada mahasiswa sekedar dengan mengatakan
(telling).
Berpikir mengenai ilmu pengetahuan selalu bersifat keduanya "out-there"
sebagai sesuatu yang terjadi di dunia, dan in-here sebagai sesuatu yang terjadi
dalam dirinya. Permasalahannya adalah strategi pembelajaran, apakah dosen dalam
perkuliahannya sekedar menyampaikan pengetahuan yang telah mereka pahami
sebagai final draft (pengetahuan final)?. Atau apakah dosen mendorong mahasiswa
melakukan interpretasi terhadap sesuatu yang diterima dari luar untuk menjadi
bagian dari pemahaman dirinya? Strategi pembelajaran yang bersifat "pemberian
atau deposit" yang oleh Paulo Friere dikecam sebagai pembelajaran mekanistik,
atau komunikasi top-down telah menghancurkan harkat manusia yang paling dalam
yaitu kemerdekaan dan kapasitas kreatifnya.
Mahasiswa sekedar menjadi penerima pasif dan tidak memiliki keberanian
untuk mempertanyakan dan menginterpretasikan berdasarkan persepsi mahasiswa
sendiri. Ilmu pengetahuan bukan diperoleh dari interpretasi yang menggunakan
pengetahuan atau pengalaman yang telah dimiliki oleh mahasiswa sendiri,
sehingga ilmu pengetahuan tidak bersifat orisinal yang dibangun sendiri. Ilmu
pengetahuan menjadi luaran (out-there) yang tidak dapat membangun
pengembaraan intelektual yang didorong oleh rasa ingin tahu intelektual yang
paling dalam. Knowles (2008) mengembangkan teori belajar orang dewasa
(andragogy) yang terkait dengan konsep diri, kekayaan akan pengalaman,
pemecahan permasalahan kehidupan, dan kesiapan belajar yang terkait dengan
peran sosialnya. Orang dewasa dalam belajar membutuhkan penghargaan terhadap
dirinya, penghargaan terhadap pengalaman yang dimiliki, pemecahan terhadap
permasalahan kehidupan yang secara konkrit dihadapi, dan penghargaan terhadap
peran sosialnya sebagai pekerja, sebagai orang tua dari anak-anaknya dan
lain-lain. Bagi orang dewasa belajar harus terkait dengan kehidupan yang konkrit

64

di mana mereka menghadapi permasalahan yang harus dipecahkan. Belajar akan


menjadi menarik apabila pengetahuan yang dipelajari terkait dengan pemecahan
permasalahan kehidupan dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan hidupnya.
Mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis (MPB) di Prodi Pendidikan
Akuntansi merupakan mata kuliah pengayaan materi penelitian karena pada
semester sebelumnya
mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi telah
mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Pendidikan (MPP). Selama ini mata
kuliah MPB diajarkan dengan pendekatan otoritatif dan lebih menekankan
mahasiswa sebagai objek. Pengalaman nyata penelitian di bidang akuntansi masih
belum dilaksanakan pada pembelajaran kedua mata kuliah tersebut. Proses belajar
mengajar cenderung menggunakan model komunikasi searah dan kreativitas
mahasiswa menjadi berkurang. Menurut pengalaman dan pengamatan peneliti,
proses pembelajaran mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis masih harus
mencari metode alternatif yang mampu memberikan tantangan dan pengalaman
berharga pada mahasiswa, sehingga setelah selesai mengikuti mata kuliah ini
mahasiswa secara mandiri memiliki pengalaman dan potensi untu kerkompetisi
dalam kajian-kajian ilmiah.
Pembelajaran kreatif-kritis menggunakan belajar pengalaman fungsional
kehidupan adalah dimaksudkan sebagai model perkuliahan yang akan
diujicobakan dan dilihat dampaknya bagi perubahan iklim perkuliahan, motivasi
mahasiswa, aktivitas belajarnya dan hasil belajarnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan pada perkuliahan mata kuliah Metodologi
Penelitian Bisnis di atas, dapat diajukan rumusan masalah sebagai berikut.
1. Bagaimana respon mahasiswa terhadap model pembelajaran kreatif-kritis
tersebut?
2. Bagaimana prestasi belajar yang diperoleh mahasiswa dengan menggunakan
model pembelajaran kreatif-kritis tersebut?
C. Manfaat Penelitian
Penelitian ini mempunyai manfaat bagi Universitas Negeri Yogyakarta
umumnya untuk memperbaiki fasilitas dan atau menyediakan fasilitas yang belum
ada guna menunjang implementasi pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran yang inovatif. Bagi dosen pengajar khususnya, penelitian ini
diharapkan mampu memberi sumbangan pikkiran untuk selalu berusaha
memperbaiki kualitas pembelajaran dengan memilih, menentukan dan kemudian
menerapkan model pembelajaran yang inovatif sehingga prestasi belajar
diharapkan dapat meningkat.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pembelajaran
Sub-bab ini membahas tentang teori pembelajaran yang digunakan sebagai
pemecahan problem ketergantungan dan pasivitas mahasiswa (pembelajar) dalam
komunikasi perkuliahan dengan dosen sebagai mana diuraikan di depan.
Pembahasannya dilakukan secara selintas sebagai gambaran konsep-konsep strategi
pembelajaran yang lebih progresif sehingga mahasiswa berperan aktif dalam
kegiatan belajar. Piaget (Wadsworth, 1985) meletakkan anak sebagai agen yang
aktif bagi perkembangan dirinya sendiri. Dapat dikatakan anak dipandang sebagai
subjek yang berinteraksi aktif dengan dunia di mana mereka melakukan kehidupan.
Makna kehidupan berada dalam perbuatan anak, sebab dengan perbuatannya atas

65

dunia di sekelilingnya anak memperoleh pemahaman dan pengertian, yaitu


pengertian akan dunia eksternal di sekitarnya dan juga pemahaman akan dirinya
sendiri. Perkembangan selalu berupa aktivitas anak untuk membangun dan
mengembangkan struktur mental mereka yang dilakukan secara aktif oleh anak
sendiri. Dalam belajar anak dipandang sebagai subjek aktif yang membangun
(construct) pengetahuannya sendiri. Belajar bukan merupakan proses penerimaan
pasif informasi dari luar dan pengetahuan bukan replikasi realitas yang direkam oleh
panca indera. Menurut Piaget setiap individu membangun dan mengorganisasi
maknanya (pemahaman) sendiri terhadap suatu realitas. Anak secara aktif
membangun dan mengubah makna (pemahaman) suatu realitas yang dihadapi dalam
kehidupan. Perubahan intelektual anak melibatkan skema (schema), assimilasi,
akomodasi, dan keseimbangan. Skema adalah struktur kognitif individu yang
digunakan untuk membangun pemahaman (makna) pengalaman dunia eksternal.
Pada waktu lahir anak memiliki skema sedikit, sebagaimana dia berkembang secara
gradual skemanya juga berkembang. Setiap anak (individu) mengalami pengalaman
baru maka akan menimbulkan perubahan struktur kognitifnya (skema). Struktur
kognitif merupakan faktor internal dalam diri individu yang menghasilkan tingkah
laku. Setiap perubahan struktur kognitif akan menghasilkan perubahan perilaku, dan
demikianlah proses perkembangan anak berjalan. Proses yang bertanggungjawab
terjadinya perubahan skema adalah assimilasi dan akomodasi. Ini berarti bahwa
perkembangan anak secara esensial melibatkan perubahan kualitatif yaitu perubahan
struktur kognitif (skema), jadi bukan sekedar perubahan (perbedaan) tingkah laku
yang banyak. Perubahan struktur kognitif menimbulkan perubahan kemampuan
anak dalam memahami pengalaman dunia eksternal yang diterima anak. Bagi
Bruner persepsi bukan merupakan proses pasif, bukan pencerminan dunia, tetapi
merupakan proses selektif yang diwarnai oleh kebutuhan, keyakinan, dan nilai-nilai.
Manusia membangun pengertian mengenai dunia realitas melalui persepsinya. Anak
selalu aktif membangun pengetahuan, membangun pemahaman tentang dunia
realitas. Anak adalah subjek yang aktif dalam berinteraksi dengan dunia di
sekitarnya dan membangun pemahaman tentang dunia realitas di sekelilingnya.
Perkembangan kognitif diartikan Bruner sebagai proses dengan individu
meningkatkan kemampuannya dalam mencapai dan menggunakan pengetahuannya.
Di samping ahli psikologi kognitif (sebagaimana di sebut di atas), ahli
psikologi humanis seperti Carl Rogers dan Maslow (juga mempunyai pandangan
mengenai perkembangan perilaku individu. Menurut Carl Rogers (Bozarth, 2008)
tujuan perkembangan individu (anak) adalah untuk mencapai a fully functioning
person yaitu suatu bentuk kepribadian yang mencapai kematangan optimal. Dia
berpandangan bahwa individu (anak) pada dasarnya adalah kooperatif, konstruktif,
dan dapat dipercaya, dan apabila mereka bebas dari ancaman, reaksi mereka adalah
positif, maju ke depan, dan konstruktif. Dalam proses perkembangan dia
menganjurkan agar kepercayaan diletakkan pada diri anak agar mereka dapat
berkembang untuk dapat mengarahkan diri mereka sendiri (self-directed).
Maslow (Anonim, 2008), ahli psikologi humanis menekankan pentingnya
motivasi dan kesehatan mental. Setiap manusia memiliki tendensi untuk
mengaktualisasikan dirinya yaitu pencapaian secara maksimal potensi yang
dimilikinya. Kebutuhan aktualisasi diri ada pada setiap diri individu dan merupakan
kebutuhan manusia yang paling tinggi. Oleh karena itu, setiap upaya membantu
perkembangan anak harus memperhatikan kebutuhan anak (individu). Strategi
pembelajaran cenderung bersifat normatif, sedang teori belajar bersifat deskriptif.
Oleh karenanya, guru/pendidik sesuai dengan karakteristik pembelajaran

66

(siswa/peserta belajar) dan mata pelajaran yang diajarkan harus menetapkan strategi
pembelajaran yang digunakan. Menurut Gagne (1974) teori belajar menjelaskan apa
yang terjadi, sedang teori pembelajaran menjelaskan bagaimana untuk membuat
agar belajar terjadi secara efisien. Pembelajaran menurut Gagne dilakukan untuk
menolong individu belajar. Hal ini dapat dikerjakan secara baik atau jelek.
Komunikasi yang dilakukan guru terhadap siswa, sebagai istilah pengganti
seperangkat peristiwa yang dilakukan oleh guru terhadap siswa, seringkali diartikan
sebagai memberitahu (to inform atau to tell). Sehingga pembelajaran berjalan
kurang baik yaitu kurang menghargai siswa sebagai pribadi. Komunikasi sebagai
esensi peristiwa pembelajaran harus diletakkan dengan tujuan membantu proses
belajar siswa. Jika berpegang teguh pada pengertian ini maka dalam strategi
pembelajaran guru harus memperlakukan siswa sebagai pribadi yang memiliki
kedirian dan keunikannya sendiri. Guru harus menghindari memperlakukan anak
(siswa) secara semaunya sebagai objek yang tidak memiliki kedirian atau harga diri.
Ini berarti dalam pembelajaran guru harus menghargai murid sebagai subjek
(individu) yang memiliki ide, sikap, kebutuhan, nilai-nilai, dan kemampuan. Carl
Rogers kurang setuju untuk meletakkan peranan guru sebagai pemberi pengetahuan
dan keterampilan pada murid. Peranan guru bukan pemberi pengetahuan dan
keterampilan, tetapi memberi bantuan (to facilitate) aktivitas belajar murid.
Pembelajaran menurut dia adalah proses yang dapat menimbulkan anak (siswa)
menjadi self-directed, dalam mencari pengetahuan dan keterampilan. Pembelajaran
yang menekankan pemberian pengetahuan dari guru pada siswa akan mematikan
potensi kreatif anak, dan mematikan kemampuan mereka untuk menjadi selfdirected person. Dalam bukunya yang terkenal Pedagogy of The oppressed Friere
(2008) menentang praktek pendidikan yang bersifat menindas. Pendidikan gaya
banking telah menjerumuskan siswa dalam posisi sebagai penerima pasif, seolaholah sebagai bejana kosong yang dimasuki pengetahuan atau informasi tentang
realita yang ada di sekitarnya. Hanya guru yang memerankan peranan aktif yaitu
mengajarkan informasi tentang realita kehidupan pada siswa. Menurut Freire untuk
mengembangkan derajad kemanusiaan siswa maka pendidikan harus bersifat
membebaskan. Dalam konsep ini anak dipandang sebagai pencari pengetahuan dan
belajar merupakan aktivitas kognisi yang aktif bukan sekedar menerima
pengetahuan. Pengetahuan diperoleh melalui proses mencari dan menemukan secara
bersama (cooperative) maka hubungan guru dan murid harus merupakan proses
dialog. Barnes (2008) dalam bukunya From Communication to Curriculum
menekankan arti pentingnya komunikasi sebagai perangkat peristiwa pembelajaran
yang bersifat terbuka dan eksploratori. Dalam komunikasi seperti ini maka akan
memberikan kesempatan siswa untuk melakukan interpretasi terhadap objek baru
yang dihadapi dengan menggunakan pengalaman yang telah dimiliki.
Dengan demikian belajar menjadi suatu proses aktif untuk memahami atau
menginterpretasi objek pemahaman baru. Dalam berbicara siswa bukan sekedar
menyampaikan replikasi sesuatu yang telah diberikan guru, tetapi mereka berbicara
secara eksploratif seolah-olah selalu menggunakan hipotesis dan mencoba
mengujinya. Apa yang disampaikan guru tidak lagi dipandang sebagai final draft,
tetapi sesuatu yang bebas/terbuka untuk diinterpretasi oleh siswa. Dalam kondisi
semacam ini pengetahuan yang diperoleh siswa akan bersifat in here knowledge
yang membangun struktur kognitif dan selanjutnya dapat digunakan untuk
melakukan tindakan dalam kehidupan.
Dalam teori andragogi (Knowles, 1979) dinyatakan arti pentingnya belajar orang
dewasa melalui menggunakan pengalaman kehidupan. Orang dewasa cenderung

67

belajar lebih banyak dari pengalaman kehidupan, baik yang terkait dengan
pekerjaannya, kehidupan keluarganya, atau rekreasinya. Dia mengutip pandangan
Lindeman sebagai peletak dasar teori andragogi, pentingnya pengalaman
kehidupan sebagai metode pembelajaran orang dewasa.
the resources of highest value in adult education is the learners experience. If
education is life, then life is also education. Too much of learning consist of
vicarious substitution of someone elses experience and knowledge. Psychology is
teaching us, however, that we learn what we do, and that there for all genuine
education will keep doing and thinking together. Experience is the adult learner
living textbook.
B. Berpikir Kreatif
Agar kreatifitas itu terjadi, sesuatu di dalam diri kita harus dijadikan hidup di
dalam sesuatu di luar kita. Kalau Anda mencari jiwa kreatif di suatu tempat di luar
dirimu, Anda mencari di tempat yang salah. Langkah dasar dalam pemecahan
masalah yang kreatif (Goleman, dkk, 2005), yaitu: (1) Tahapan pertama adalah
persiapan. Pada tahap ini membiarkan imajinasi bebas, membuka diri pada apapun
dan secara samar- samar relevan dengan permasalahan. Tujuannya adalah untuk
mengumpulkan unsur yang tidak biasa dan tidak terduga bisa dengan sendirinya
muncul berdampingan. (2) tahap kedua adalah inkubasi. Pada tahap ini
merenungkan seluruh potongan yang relevan dan mendesakkan pikiran rasional ke
batas terjauhnya. Pada tahap ini persoalan tersebut boleh dibiarkan mengendap. (3)
Tahap ketiga adalah pencerahan. Pada tahap ini, seketika jawaban yang dicari
datang entah dari mana. Inilah tahapan yang biasanya memperoleh limpahan
perhatian. (4) Tahap terakhir adalah penerjemahan. Pada tahap ini mengubah
wawasan menjadi tindakan. Menerjemahkan pencerahan ke dalam realitas membuat
ide hebat lebih dari sekedar pemikiran yang berlalu. Kreatifitas bukan sebuah
kemampuan tunggal yang bisa digunakan seseorang dalam setiap aktivitas. Ada tiga
bahan dasar kreatifitas (Teresa dalam Goleman dkk, 2005), yaitu: (1) keahlian
dalam bidang khusus berupa ketrampilan dalam hal tertentu. Ketrampilan ini
merupakan penguasaan dasar dalam suatu bidang. (2) Keterampilan berpikir kreatif.
Ketrampilan berpikir kreatif ini mencakup kemampuan untuk membayangkan
rentang kemungkinan yang beragam, tekun dalam menangani persoalan, dan
memiliki standar kerja yang tinggi. (3) Motivasi intrinsik, dorongan untuk
melakukan sesuatu semata demi kesenangan melakukannya bukan karena hadiah
atau kompensasi. Orang kreatif bukan saja terbuka terhadap segala jenis pengalaman
baru, mereka mau mengambil risiko. Menemukan keberanian untuk merangkul
kecemasan dan mengambil langkah selanjutnya adalah penting bagi kreatifitas jenis
apa pun. Cemas adalah kaki tangan kreatifitas. Akan tetapi, mengakui kecemasan
dan kemauan itu untuk mengandengnya yang penting.
Kemampuan untuk membuat keputusan intuitif merupakan bahan dasar
kreativitas (Goleman, dkk, 2005). Instituisi berarti menghapuskan kontrol atas
pikiran mempercayai visi alam tak sadar. Instuisi mempunyai keberanian sendiri
karena ia berlandaskan pada kemampuan alam tak sadar untuk mengorganisasi
informasi menjadi ide baru yang tak terduga. Pikiran yang dipenuhi oleh
kekhawatiran menganggu orang berfokus pada pekerjaan. Kecemasan semacam ini
merupakan pembunuh kreativitas. Bulo (2002) mengidentifikasi salah satu keluaran
dari proses pengajaran Akuntansi adalah kemampuan intelektual yang terdiri dari
ketrampilan teknis dasar akuntansi dan kapasitas untuk berfikir kritis dan kreatif.
Guru kreatif dan inovatif tidaklah akan cepat puas dengan salah satu tindakan yang
dilakukannya. Mereka akan selau tidak puas dengan apa yang telah dijalani sebelum

68

mendapatkan hasil yang memuaskan bagi dirinya, siswa, dan kepentingan akademis.
Banyak jalan menuju Roma, begitu pula banyak jalan untuk menjadi guru yang
terbaik di antara yang baik. Guru yang seperti itu biasanya apabila mengajar selalu:
(1) berpusat pada siswa, (2) lebih senang pola induktif daripada deduktif, (3)
menarik dan menantang dalam menyajikan mata ajar, (4) berorientasi pada
kompetensi siswa, (5) menekankan pembelajaran bukan pengajaran, (6)
memvariasikan metode dan teknik pembelajaran, (7) menggunakan sentuhan
manusiawi, (8) menggunakan media belajar yang menghasilkan pesan maksimal, (9)
menilai secara autentik, dan (10) mengedepankan citra mengajar (Suyatno, 2008)
Guilford (dalam Sternberg, 1999: 7) menyatakan bahwa berpikir secara
divergen (divergent thinking) merupakan instrumen untuk mengukur kreatifitas.
Selanjutnya dengan menggunakan pendapat Guilford ini, Torrance (dalam
Sternberg, 1999: 7) mengembangkan indikator kreativitas dalam suatu tes verbal
dan figural dengan menggunakan empat unsur yaitu fluency (kelancaran
mengungkapkan pendapat, ide, gagasan), flexibility (kepemilikan ide variatif sesuai
dengan permasalahan), originality (keaslian/kemurnian ide), dan elaboration
(ketuntatas gagasan untuk memecahkan problem). Mitchell dkk. (1983)
mengidentifikasi perilaku kreatif seseorang itu memiliki empat belas karakteristik
unsur sebagai berikut: (1) rasa humor, (2) responsif terhadap rangsangan, (3)
fleksibel (menghasilkan berbegai ide), (4) orisinil (ide yang unik atau jarang), (5)
elaboratif (mengembangkan ide), (6) konsep diri (mekanisme menilai diri), (7)
bereksperimen (ide melakukan problem solving), (8) belajar dari kegagalan, (9)
toleransi, (10) kepanjangan akal daya (resourcefulness), (11) sensitif terhadap
permasalahan dan penemuan jalan keluar, (12) sinergi (penyatuan elemen agar
diperoleh hasil lebih besar), (13) imaginasi, dan (14) melatih emosi dalam setiap
pemecahan problem
Sedangkan menurut Rowe (2004)
kreativitas merupakan refleksi dari
intelegensi kreatif yang memiliki empat unsur sebagai berikut. (1) intuitif, merujuk
kepada kemampuan menggunakan pengalaman masa lalu yang membantu
memecahkan masalah, (2) inovatif, merujuk kepada kemauan bekerja keras secara
teliti dan hati-hati, (3) imaginatif, merujuk kepada orang yang memiliki cita rasa
seni, suka menulis, pemipmin yang baik, dan mampu memvisualisasi kesempata,
dan (4) inspirational, merujuk kepada kemamampuan untuk menjadi agen perubahan
masyarakat.
Sternberg (1999: 3) membuat kesimpulan tentang definisi kreatifitas sebagai
kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang orisinal (novel that means original,
unexpected) dan bermanfaat (appropriate). Amabile (dalam Sternberg, 1999: 10)
menyebutkan ada tiga unsur keterampilan kreatif yaitu: (1) model kognitif yang
digunakan untuk memecahkan problem (cognitive styles deal with problem solving),
(2) pengetahuan dan gagasan orisinal yang digunakan untuk memecahkan masalah,
dan (3) Model kerja terkonsentrasi dan energik dalam memecahkan masalah.
Berdasarkan teori investasi, untuk mengembangkan kreativitas dibutuhkan enam
unsur berbeda yang harus saling berkaitan, yaitu kemampuan ntelektual,
pengetahuan, model berpikir, kepribadian, motiasi, dan lingkungan Sternberg (1999:
11) .
Salah satu kecakapan hidup (life skill) yang perlu dikembangkan melalui
proses pendidikan adalah keterampilan berpikir (Depdiknas, 2003). Kemampuan
seseorang untuk dapat berhasil dalam kehidupannya antara lain ditentukan oleh
keterampilan berpikirnya, terutama dalam upaya memecahkan masalah-masalah
kehidupan yang dihadapinya. Di samping pengembangan fitrah bertuhan,

69

pembentukan fitrah moral dan budipekerti, inkuiri dan berpikir kritis disarankan
sebagai tujuan utama pendidikan sains dan merupakan dua hal yang bersifat sangat
berkaitan satu sama lain (Ennis, 1985). Proses pembelajaran di sekolah berperan
dalam membantu siswa untuk berkembang menjadi pemikir yang kritis dan kreatif
terutama jika guru dapat memfasilitasinya melalui kegiatan belajar yang efektif.
Johnson (2000), mengemukakan keterampilan berpikir dapat dibedakan menjadi
berpikir kritis dan berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini disebut juga sebagai
keterampilan berpikir tingkat tinggi (Liliasari, 2002). Berpikir kritis merupakan
proses mental yang terorganisasi dengan baik dan berperan dalam proses mengambil
keputusan untuk memecahkan masalah dengan menganalisis dan menginterpretasi
data dalam kegiatan inkuiri ilmiah. Sedangkan berpikir kreatif adalah proses
berpikir yang menghasilkan gagasan asli atau orisinal, konstruktif, dan menekankan
pada aspek intuitif dan rasional (Johnson, 2000).
Kreatifitas bukan sebuah kemampuan tunggal yang bisa digunakan
seseorang dalam setiap aktivitas. Ada tiga bahan dasar kreatifitas (Teresa dalam
Goleman dkk, 2005), yaitu: (1) keahlian dalam bidang khusus berupa ketrampilan
dalam hal tertentu. Ketrampilan ini merupakan penguasaan dasar dalam suatu
bidang. (2) Ketrampilan berpikir kreatif. Ketrampilan berpikir kreatif ini mencakup
kemampuan untuk membayangkan rentang kemungkinan yang beragam, tekun
dalam menangani persoalan, dan memiliki standar kerja yang tinggi. (3) Motivasi
intrinsik, dorongan untuk melakukan sesuatu semata demi kesenangan
melakukannya bukan karena hadiah atau kompensasi. Orang kreatif bukan saja
terbuka terhadap segala jenis pengalaman baru, mereka mau mengambil risiko.
Menemukan keberanian untuk merangkul kecemasan dan mengambil langkah
selanjutnya adalah penting bagi kreatifitas jenis apa pun. Cemas adalah kaki tangan
kreatifitas. Akan tetapi, mengakui kecemasan dan kemauan itu untuk
mengandengnya yang penting.
Kemampuan untuk membuat keputusan intuitif merupakan bahan dasar
kreativitas (Goleman, dkk, 2005). Instituisi berarti menghapuskan kontrol atas
pikiran dan mempercayai visi alam tak sadar. Instuisi mempunyai keberanian sendiri
karena ia berlandaskan pada kemampuan alam tak sadar untuk mengorganisasi
informasi menjadi ide-ide baru yang tak terduga. Pikiran yang dipenuhi oleh
kekhawatiran menganggu orang berfokus pada pekerjaan. Kecemasan semacam ini
merupakan pembunuh kreativitas. Bulo (2002) mengidentifikasi salah satu keluaran
dari proses pengajaran Akuntansi adalah kemampuan intelektual yang terdiri dari
ketrampilan teknis dasar akuntansi dan kapasitas untuk berfikir kritis dan kreatif.
C. Berpikir Kritis
Pemahaman umum mengenai berpikir kritis, sebenarnya adalah pencerminan
dari apa yang digagas oleh John Dewey sejak tahun 1916 sebagai inkuiri ilmiah dan
merupakan suatu cara untuk membangun pengetahuan. Ennis (1985) memberikan
definisi berpikir kritis adalah berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan
keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan. Berdasarkan
definisi tersebut, maka kemampuan berpikir kritis menurut Ennis terdiri atas
duabelas komponen yaitu: (1) merumuskan masalah, (2) menganalisis argumen, (3)
menanyakan dan menjawab pertanyaan, (4) menilai kredibilitas sumber informasi,
(5) melakukan observasi dan menilai laporan hasil observasi, (6) membuat deduksi
dan menilai deduksi, (7) membuat induksi dan menilai induksi, (8) mengevaluasi,
(9) mendefinisikan dan menilai definisi, (10) mengidentifikasi asumsi, (11)
memutuskan dan melaksanakan, (12) berinteraksi dengan orang lain.

70

Dressel & Mayhew (dalam Muslimin Ibrahim, 2008) mengutip kemampuan


berpikir kritis yang dikembangkan oleh Komite Berpikir Kritis Antar-Universitas (
Intercollege Committee on Critical Thinking ) yang terdiri atas: (1) kemampuan
mendefinisikan masalah, (2) kemampuan menyeleksi informasi untuk pemecahan
masalah, (3) kemampuan mengenali asumsi-asumsi, (4) kemampuan merumuskan
hipotesis, dan (5) kemampuan menarik kesimpulan. Orlich, et al (dalam Muslimin
Ibrahim, 2008) menyatakan bahwa kemampuan yang berasosiasi dengan berpikir
kritis yang efektif meliputi: (1) mengobservasi; (2) mengidentifikasi pola,
hubungan, hubungan sebab-akibat, asumsi-kesalahan alasan, kesalahan logika dan
bias; (3) membangun kriteria dan mengklasisfikasi; (4) membandingkan dan
membedakan, (5) menginterpretasikan; (6) meringkas; (7) menganalisis, mensintesis
dan menggeneralisasi; mengemukakan hipotesis; (8) membedakan data yang relevan
dengan yang tidak relevan, data yang dapat diverifikasi dan yang tidak,
membedakan masalah dengan pernyataan yang tidak relevan.
Keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau modal
intelektual yang sangat penting bagi setiap orang (Depdiknas, 2003) dan
merupakan bagian yang fundamental dari kematangan manusia (Penner 1995
dalam Liliasari, 2000). Oleh karena itu, pengembangan keterampilan berpikir kritis
menjadi sangat penting bagi siswa di setiap jenjang pendidikan. Keterampilan
berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen dan
memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interpretasi untuk mengembangkan pola
penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi
masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat.
Keterampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan
melalui proses pembelajaran.
Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi
pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan
dengan pola pengelolaan diri (self organization) yang ada pada setiap mahluk di
alam termasuk manusia sendiri (Johnson, 2000). Morgan (dalam Muslimin
Ibrahim, 2008) memberikan kerangka tentang pentingnya pembelajaran berpikir
yaitu: (1) berpikir diperlukan untuk mengembangkan sikap dan persepsi yang
mendukung terciptanya kondisi kelas yang positif, (2) berpikir perlu untuk
memperoleh dan mengintegrasikan pengetahuan, (3) perlu untuk memperluas
wawasan pengetahuan, (4) perlu untuk mengaktualisasikan kebermaknaan
pengetahuan, (5) perlu untuk mengembangkan perilaku berpikir yang
menguntungkan.
Berpikir kritis merupakan suatu kompetensi yang harus dilatihkan pada
peserta didik, karena kemampuan ini sangat diperlukan dalam kehidupan sekarang
(Arnyana, 2004). Guru perlu membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis melalui strategi, dan metode pembelajaran yang mendukung siswa
untuk belajar secara aktif. Inkuiri yang dipadukan dengan strategi kooperatif
merupakan salah satu cara untuk itu. Dengan kegiatan inkuiri, siswa dapat belajar
secara aktif untuk merumuskan masalah, melakukan penyelidikan, menganalisis dan
menginterpretasikan data, serta mengambil keputusan untuk memecahkan masalah
yang dihadapinya.
D. Penilaian Belajar
Dalam membicarakan hasil belajar tidak bisa dipisahkan dari penilaian
sebagai aktivitas di dalam menentukan tinggi rendahnya hasil belajar. Bila
membicarakan penilaian maka tidak terlepas membahas masalah evaluasi, sebab
evaluasi merupakan suatu tindakan untuk menentukan nilai segala sesuatu di dalam

71

pembelajaran. Untuk mengetahui prestasi belajar yang telah dicapai perlu diadakan
evaluasi atau tes yang diberikan kepada siswa secara periodik. Crowl dkk. (1997:
310) mengatakan bahwa : evaluasi mengarah kepada proses pembuatan keputusan
tentang nilai. Hal ini berarti bahwa evaluasi dapat digunakan sebagai pijakan guru,
pendidik atau lembaga dalam memutuskan seseorang atau sesuatu aktivitas untuk
dapat digolongkan, baik, buruk, gagal atau berhasil.
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan dalam pembelajaran yang wajib
dilaksanakan oleh guru setelah proses pembelajaran berakhir. Hasil dari evaluasi
belajar tersebut diharapkan dapat memberikan informasi tentang kemampuan yang
telah dicapai siswa setelah mempelajari suatu mata pelajaran. Dengan demikian
penyusunan strategi evaluasi akan menentukan ketepatan informasi yang
disampaikan kepada guru, pendidik, lembaga maupun siswa itu sendiri. Pelaksanaan
evaluasi pembelajaran dengan menggunakan instrumen tes formatif maupun tes
sumatif.
Menurut Nana Sujana (1990: 4), tujuan penilaian adalah untuk : 1)
mendiskripsikan kecakapan belajar siswa, sehingga dapat diketahui posisi
kemampuannya dibandingkan dengan siswa yang lainnya, 2) mengetahui proses
pendidikan dan pengajaran, dan mengubah tingkah laku siswa kearah tujuan yang
diharapkan, 3) menentukan tindak lanjut hasil penilaian
E. Prestasi Belajar
Dalam hasil belajar sering disebut juga prestasi belajar. kata prestasi berasal
dari Bahasa Belanda prestatie, kemudian di dalam bahasa Indonesia disebut prestasi,
diartikan sebagai hasil usaha. Prestasi banyak digunakan di dalam berbagai bidang
dan diberi pengertian sebagai kemampuan, keterampilan, sikap seseorang dalam
menyelesaikan sesuatu hal (Zaenal Arifin, 1999: 78). Menurut Syamsul Bahri
Djamarah (1994), prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
atau diciptakan secara individu maupun secara kelompok. Pendapat ini berarti
prestasi tidak akan pernah dihasilkan apabila seseorang tidak melakukan kegiatan.
Hasil belajar atau prestasi belajar adalah suatu hasil yang telah dicapai oleh siswa
setelah melakukan kegiatan belajar. Oleh karena itu prestasi belajar bukan ukuran,
tetapi dapat diukur setelah melakukan kegiatan belajar. Keberhasilan seseorang
dalam mengikuti program pembelajaran dapat dilihat dari prestasi belajar seseorang
tersebut. Muhibbin Syah (dalam Abu Muhammand Ibnu Abdullah, 2008)
menjelaskan bahwa: Prestasi belajar merupakan taraf keberhasilan murid atau
santri dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah atau pondok pesantren
dinyatakan dalam bentuk skor yang diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah
materi pelajaran tertentu.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar
adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat memberikan
kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes tertentu. Dalam proses
pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni,
penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur
dengan tes tertentu. Hasil belajar sering dipergunakan dalam arti yang sangat luas
yakni untuk bermacam-macam aturan terhadap apa yang telah dicapai oleh murid,
misalnya ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, tes lisan yang dilakukan
selama pelajaran berlangsung, tes akhir catur wulan dan sebagainya.
Pada umumnya, untuk menilai hasil belajar murid, guru dapat menggunakan
bermacam-macam achievement test, seperti oral test, essay test dan
objective test atau short-answer test. Sedangkan untuk nilai proses belajar dan
hasil belajar murid yang bersifat keterampilan (skill), tidak dapat dipergunakan

72

hanya dengan tes tertulis atau lisan, tapi harus dengan performance test yang
bersifat praktek.
Menurut Saefuddin Azwar (1988: 8), pengertian prestasi atau keberhasilan
belajar dapat dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai rapor,
indeks prestasi studi, angka kelulusan, predikat keberhasilan, dan lain sebagainya.
Keberhasilan dalam belajar dipengaruhi oleh banyak faktor yang bersumber dari
dalam (internal) maupun dari luar (eksternal) diri individu.
F. Hiptesis Tindakan Kelas
Hipotesis yang akan diuji dalam tindakan kelas ini adalah:
1. Respon mahasiswa terhadap pembelajaran kreatif-kritis cenderung lebih positif
dibandingkan menggunakan pembelajaran konvensional.
2. Penerapan model pembelajaran kreatif-kritis pada Matakuliah Metodologi
Penelitian Bisnis dapat meningkatkan prestasi belajar mahasiswa
BAB III. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang diambil adalah penelitian tindakan partisipan
(participatory action research). Subjek penelitian ini adalah seorang dosen
pengampu mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis, seorang dosen sebagai
observer, dan seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Metodologi Penelitian
Binis pada Program Studi Pendidikan Akuntansi FISE UNY. Mahasiswa peserta
mata kuliah MPB ini terdiri dari dua kelompok, yaitu mahasiswa program reguler
dan program nonreguler semester genap 2007/2008 yang berjumlah 86 mahasiswa
(Reguler = 41 orang dan Nonreguler = 45). Variabel penelitian ini terbagi ke dalam
tiga bagian, yaitu: respon mahasiswa, prestasi belajar, dan metode pembelajaran
kreatif-kritis.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan
menggunakan dokumentasi, kuesioner, observasi, dan wawancara.
Angket yang digunakan untuk mengungkap respos mahasiswa menggunakan opsi
jawaban Ya dan Tidak. Kisi-kisi instrumen dapat dilihat dalam tabel 1 berikut:
Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Respon Mahasiswa
No
Aspek
1. Kesesuaian metode mengajar dengan bahan
2. Mengaktifkan mahasiswa
3. Memberi pengertian bukan hanya dengan kata-kata
4. Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan riil mahasiswa
5. Menerangkan dengan menggunakan contoh
6. Membangkitkan keinginan mahasiswa untuk berusaha
7. Mengembangkan kreativitas mahasiswa
8. Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang
9. Memberi pengalaman belajar yang beragam
10. Belajar dengan berbuat
11. Meliputi aspek kognitif afektif dan psikomotor
12. Berorientasi pada kompetensi
13. Ketuntasan belajar
14. Valid,adil, terbuka dan berkesinambungan
15. Memberi kesempatan untuk bertanya
16. Ada nilai tambah yang diperoleh mahasiswa
17. Menggunakan pengelaman yang dimiliki untuk mengkritisi pengetahuan
18. Interpretasi menggunakan pengalaman
19. Mendorong timbulnya aktivitas eksplorasi dan interpretasi menggunakan

73

20.
21.
22.
23.
24.

data
Mengembangkan sikap kreatif kritis mahasiswa
Memberi pengalaman mengaplikasi pengetahuan
Berusaha memecahkan masalah berdasar data
Mendorong mahasiswa memecahkan masalah dengan cara baru/berbeda
Memberi materi yang original dan fungsional

Proses penelitian ini akan dilakukan secara cyclic sebagaimana yang disarankan oleh
Kemmis dan McTaggart (1988) dengan memperhatikan plan, implementation,
monitoring, and reflection. Analisis data yang digunakan dalam penelitian tindakan
kelas ini adalah analisis reflektif dan evaluatif. Analisis reflektif merupakan upaya
untuk mengingat dan merenungkan kembali suatu tindakan yang telah dilakukan.
Refleksi berusaha memahami proses, masalah, persoalan, dan kendala nyata dalam
tindakan strategik. Dalam hal ini analisis reflektif dilakukan dengan
mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dan memahami persoalan
yang muncul beserta kendalanya. Dalam kegiatan analisis reflektif ini seluruh peneliti
dikumpulkan bersama untuk melakukan suatu diskusi. Diskusi ditekankan pada
membahas proses tindakan yang telah dilakukan untuk menemukan persoalan dan
kendala yang dihadapi dalam melaksanakan tindakan. Kemudian ditentukan langkahlangkah antisipasi yang dapat dilakukan untuk memperbaiki tindakan selanjutnya.
Hasil analisis reflektif ini selanjutnya dilakukan pembahasan untuk mengevaluasi
tingkat keberhasilan tindakan. Hasil evaluasi inilah yang selanjutnya dijadikan
sebagai bahan masukan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Data Umum
Data penelitian yang dikumpulkan dibedakan dalam data yang bersifat umum
dan khusus. Data umum melliputi jumlah mahasiswa dan status mahasiswa yang
menjadi subjek penelitian.
Data ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi.
Berikut ini disajikan deskripsi data umum mahasiswa peserta mata kuliah
Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan Akuntansi FISE UNY sebagai
berikut.
Tabel 2. Jumlah Mahasiswa Peserta kuliah Metodologi Penelitian Bisnis

Valid

Reguler

Frequency
41

Percent
48.8

Valid Percent
48.8

Cumulativ e
Percent
48.8
100.0

Nonreguler

43

51.2

51.2

Total

84

100.0

100.0

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mahasiswa yang mengambil


mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan Akuntansi FISE UNY
2007 / 2008 dibedakan dalam dua kelas yakni kelas reguler dan nonreguler.
Mahasiswa kelas reguler sebanyak 48,8%, sedangkan mahasiswa nonreguler
sebanyak 51,2%. Berdasarkan total peserta kuliah dapat dilihat bahwa peserta
nonreguler lebih banyak dibanding peserta reguler.
Mahasiswa peserta kuliah terdiri dari mahasiswa kelas basis (yang semestinya
mengambil pada semester tersebut), mahasiswa yang mengambil pada semester
atasnya dan mahasiswa yang mengulang. Berikut adalah ringkasan tabel status
mahasiswa tersebut (tabel 3):
Tabel 3. Status Mahasiswa Mengambil Mata Kuliah

74

Valid

Mengambil Atasny a

Cumulat iv e
Percent
2.4

Frequency
2

Percent
2.4

Valid Percent
2.4

79

94.0

94.0

96.4

3.6

3.6

100.0

84

100.0

100.0

Mengambil Semestiny a
Mengulang
Total

Berdasarkan Tabel 3 tersebut dapat diketahui bahwa 2,4% peserta adalah


mahasiswa yang mengambil atasnya, 94% mahasiswa yang mengambil semestinya,
dan 3,6% merupakan mahasiswa yang mengulang.
B. Data Khusus
1. Data Kuantitatif
Data kuantitatif meliputi respon mahasiswa yang berupa persepsi mahasiswa
setelah implementasi tindakan serta prestasi belajar mahasiswa setelah
implementasi tindakan. Respon mahaiswa meliputi kesesuaian metode dengan
bahan, mengaktifkan mahasiswa, memberi pengertian lebih dari sekedar verbal
(hanya dengan kata-kata), menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan riil
mahasiswa, menerangkan dengan contoh, membangkitkan mahasiswa untuk
berusaha, mengembangkan kreativitas mahasiswa, menciptakan kondisi yang
menyenangkan dan menantang, memberi pengalaman belajar yang beragam,
belajar dengan berbuat, aspek kognitif afektif dan psikomotor, berorientasi pada
kompetensi, ketuntasan belajar, valid adil terbuka dan berkesinambungan,
memberi kesempatan untuk bertanya, ada nilai tambah yang diperoleh
mahasiswa, menggunakan pengelaman yang dimiliki untuk mengkritisi
pengetahuan, interpretasi menggunakan pengalaman, mendorong timbulnya
aktivitas eksplorasi dan interpretasi menggunakan data, mengembangkan sikap
kreatif kritis mahasiswa, memberi pengalaman mengaplikasi pengetahuan,
berusaha memecahkan masalah berdasar data, mendorong mahasiswa
memecahkan masalah dengan cara baru/berbeda, serta memberi materi yang
original dan fungsional. Berikut disajikan data mengenai respon mahasiswa yang
dikumpulkan setelah mengikuti mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi
Pendidikan Akuntansi FISE UNY 2007 / 2008:
Tabel 4. Persentase Respon Mahasiswa Setiap Siklus
S1

ITEM

S2

S3

Kesesuaian metode mengajar dengan bahan

51

49

96

82

18

Mengaktifkan mahasiswa

54

46

93

79

21

Memberi pengertian bukan hanya dengan kata-kata

54

46

90

10

84

16

Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan riil mahasiswa

56

44

99

78

22

Menerangkan dengan menggunakan contoh

57

43

97

81

19

Membangkitkan keinginan mahasiswa untuk berusaha

25

75

88

12

81

19

Mengembangkan kreativitas mahasiswa

38

62

88

12

84

16

Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang

40

60

87

13

85

15

Memberi pengalaman belajar yang beragam

25

75

91

84

16

Belajar dengan berbuat

60

40

93

87

13

Meliputi aspek kognitif afektif dan psikomotor

56

44

93

79

21

Berorientasi pada kompetensi

57

41

84

16

69

21

Ketuntasan belajar

93

96

84

16

75

Valid,adil, terbuka dan berkesinambungan


Memberi kesempatan untuk bertanya

87
65

28
35

78
72

22
28

81
78

19
22

Ada nilai tambah yang diperoleh mahasiswa


Menggunakan pengalaman yang dimiliki untuk mengkritisi
pengetahuan

35

65

79

21

85

15

34

66

94

88

12

Interpretasi menggunakan pengalaman


Mendorong timbulnya aktivitas eksplorasi dan interpretasi
menggunakan data

46

54

87

13

84

16

43

57

96

87

13

Mengembangkan sikap kreatif kritis mahasiswa

50

50

94

84

16

Memberi pengalaman mengaplikasi pengetahuan

37

63

97

82

18

Berusaha memecahkan masalah berdasar data


Mendorong mahasiswa memecahkan masalah dengan cara
baru/berbeda

38

62

88

12

84

16

40

60

76

24

82

18

Memberi materi yang original dan fungsional

69

31

97

79

21

Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa menurut sebagian besar


mahasiaswa, dosen telah mengajar dengan menggunakan metode yang sesuai dengan
materi. Respon mahasiswa mengenai tingkat kesesuaian metode dari siklus pertama
sampai kedua mengalami peningkatan. Lebih dari 50% mahasiswa memberi respon
bahwa dosen berusaha mengaktifkan, memotivasi dan mengembangkan kreativitas,
memberi kesempatan mahasiswa bereksplorasi serta menciptakan kondisi belajar
yang menyenangkan bagi mahasiswa selama proses pembelajaran.
Penjelasan yang diberikan oleh dosen menurut penilaian mahasiswa tidak
hanya berupa kata-kata saja, melainkan sudah disertai contoh. Dari siklus pertama
sampai kedua penjelasan dosen makin mempermudah pemahaman mahasiswa.
Pembelajaran yang dihadirkan oleh dosen menurut mahasiswa sudah kontekstual.
Sebagian besar mahasiswa berpendapat bahwa dosen menghubungkan materi dengan
kebutuhan riil mahasiswa, original dan fungsional, dan membelajarkan mahasiswa
dengan berbuat (learning by doing), serta memberi pengalaman beragam pada
mahasiswa. Menurut mahasiswa, dosen memberi kesempatan pada mahasiswa untuk
menginterpretasi permasalahan berdasar pengalaman yang telah dimiliki dan
mengaplikasi pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran menurut mahasiswa dihadirkan dengan pemecahan masalah.
Dosen memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berlatih memecahkan masalah
berdasar data yang diperoleh, ada aktivitas tanya jawab, melatih mahasiswa untuk
memecahkan permasalahan baru dengan cara yang berbeda, sehingga aktivitas
tersebut mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kreatif-kritis.
Pembelajaran berorientasi pada kompetensi yang ditentukan sebelumnya
dengan penekanan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Prinsip penilaian, cukup
adil, valid, terbuka, dan berkesinambungan. Konsep belajar tuntas diterapkan sesuai
dengan kurikulum yang diimplementasi yaitu berbasis kompetensi.
Data mengenai prestasi belajar diperoleh dengan teknik tes yang
diselenggarakan pada tiap akhir siklus penelitian. Nilai yang diperoleh dikategorikan
dalam 3 kategori yakni nilai teori, nilai praktik, dan nilai lapangan. Berikut ini
disajikan ringkasan nilai rerata mahasiswa:

76

Tabel 5. Nilai Rerata Mahasiswa per Siklus


Nilai teori
Nilai teori dan praktik
Nilai teori, praktik, dan lapangan

N
Statistic
78
83
84

Minimum
Statistic
10.00
50.00
18.00

Maximum
Statistic
100.00
100.00
100.00

Mean
Statistic
56.9231
90.7229
89.3810

Std.
Statistic
23.97551
16.73197
15.41311

Skewness
Statistic
Std. Error
.217
.272
-1.573
.264
-2.154
.263

Tabel 5 menunjukkan bahwa rerata nilai teori adalah 56,92, rerata nilai teori
dan praktik adalah 90,72, sedangkan rerata nilai teori, praktik, dan lapangan
adalah 89,38. Skor maksimum nilai untuk masing masing kategori adalah 100
sedang skor minimum kelas adalah 10, kelas dan praktik adalah 50, dan kelas,
praktik, dan lapangan adalah 18.
Berdasarkan kelas, status pengambilan mata kuliah, dan jenis kelamin
mahasiswa serta deskripsi nilai rerata, berikut ini dapat dilihat data mengenai
hal-hal tersebut (dalam tabel 6)
Tabel 6. Nilai Rerata Mahasiswa Berdasar Kelas, Status Pengambilan
Mata Kuliah, dan Jenis Kelamin
Nilai teori

Kelas
Status pengambilan
mata kuliah

Mean
93.66

Nilai teori, praktik,


dan lapangan
Mean
93.66

Reguler

Mean
65.14

Nonreguler

49.51

87.86

85.30

Mengambil Atasnya

60.00

100.00

70.50

Mengambil Semestinya

58.22

90.13

90.75

23.33

100.00

66.00

Laki - Laki

57.69

88.12

91.00

Perempuan

56.77

91.34

89.00

Mengulang
Jenis Kelamin

Nilai teori dan


praktik

Tabel 6 menjelaskan bahwa mahasiswa kelas regular mempunyai rerata nilai


teori 65,14, nilai teori dan praktik 93,66, dan nilai teori, praktik, dan lapangan
93,66. Kelas nonreguler mempunyai rerata nilai teori 49,51, nilai teori dan
praktik 87,86, dan nilai teori, praktik, dan lapangan 85,30. Nilai rerata
mahasiswa berdasarkan status pengambilan mata kuliah adalah bahwa
mahasiswa yang mengambil atasnya mempunyai rerata nilai teori 60,00, nilai
teori dan praktik 100,00, dan nilai teori, praktik, dan lapangan 70,50. Mahasiswa
yang mengambil semestinya mempunyai rerata nilai teori 58,22, nilai teori dan
praktik 90,13, serta nilai teori, praktik, dan lapangan 90,75. Mahasiswa yang
mengulang mempunyai rerata nilai teori 23,33, nilai teori dan praktik 100, dan
nilai teori, praktik, dan lapangan 66,00. Berdasarkan jenis kelaminnya,
mahasiswa laki-laki mempunyai rerata nilai teori57,69, nilai teori dan praktik
88,12, dan rerata nilai teori, praktik, dan lapangan 91,00. Mahasiswa perempuan
mempunyai rerata nilai teori 56,77, nilai teori dan praktik 91,34, dan nilai teori,
praktik, dan lapangan 89,00.
2. Data Kualitatif
Pada bagian akhir angket yang diedarkan kepada mahasiswa berisi
permohonan peneliti agar mahasiswa memberikan komentar atau masukan atas
penyelenggaraan kuliah yang menggunakan tiga pendekatan (teori, praktik,
lapangan). Berdasarkan komentar yang masuk dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu komentar menyangkut diri pengajar dan komentar menyangkut
fasilitas. Berikut ini adalah hasil reduksi data dari variasi komentar yang
diberikan oleh mahasiswa peserta kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi
Pendidikan Akuntansi FISE UNY 2007 / 2008.

77

a.
Pengajar: Pengajar diminta untuk mengurangi humor karena sebagian
mahasiswa beranggapan terlalu banyak humor/terlalu lucu. Hal ini kurang baik
mengingat belajar juga memerlukan eseriusan.Humor mungki penting untuk
mengurangi ketegangan dalam beajar, akan tetapi hendaknya dijaga supaya tidak
terlalu banyak bahkan terlalu lucu bagi mahasiswa. Dalam menyampaikan
materi, mahasiswa menilai bahwa pengajar sudah baik mengajarnya, banyak
senyum,
semangat,
sabar,
ceria,
penuh
canda.
Dosen
menyampaikan/menjelaskan tujuan kuliah di awal, berusaha memperbaiki
tulisan tangan agar lebih jelas ditangkap oleh mahasiswa. Pengajar/dosen sudah
memberikan tugas kelompok ke lapangan. Tugas diberikan untuk memperoleh
data sesuai dengan materi yang diberikan. Namun sebagian mahasiswa juga
berpendapat bahwa penjelasan bagi mereka masih kurang, perhatian pada yang
kurang kemampuan masih kurang, dan ketika menjelaskan masih terlalu cepat.
b.
Fasilitas: Fasilitas yang dinilai oleh mahasiswa meliputi hardware dan
software. Catatan mahasiswa berkaitan dengan fasilitas yang digunakan untuk
pembelajaran adalah sebagai berikut: (1) hardware: kondisi ruangan belajar
dirasa kurang kondusif. Pembagian kelas masukhendaknya diperbaiki mengingat
kondisi ruangan yang kurang memadai (jumlah fasilitas laboratorium yang layak
tidak sesuai dengan jumlah peserta), dan (2) software: modul hendaknya
diberikan di awal kuliah. Contoh penellitian yang lengkap hendaknya diberikan
agar pemahaman menjadi lebih baik.
C. Pembahasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon mahasiswa terhadap terhadap
pembelajaran kreatif-kritis cenderung lebih positif dibandingkan menggunakan
pembelajaran konvensional. Respon mahasiswa lebih baik ketika pembelajaran tidak
lagi menggunakan pendekatan konvensional, di mana mahasiswa menerima informasi
tidak mendapatkan sendiri informasi tersebut. Proses pembelajaran berlangsung lebih
menyenangkan dengan model pembelajaran kreatif-kritis. Pada gilirannya,
pembelajaran yang menyenangkan akan membawa dampak peningkatan prestasi
belajar mahasiswa. Prestasi belajar yang diketahui dari nilai rerata mahasiswa peserta
kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan Akuntansi FISE UNY
2007/2008 menunjukkan bahwa kelas reguler lebih tinggi dari kelas nonreguler baik
untuk nilai kuliah kelas, kuliah kelas dan praktik maupun nilai kuliah kelas, praktik,
dan lapangan. Dilihat dari status pengambilan mata kuliah, nilai mahasiswa yang
mengambil atasnya dan yang mengulang lebih tinggi dibanding dengan nilai rerata
mahasiswa yang mengambil semestinya baik untuk nilai kuliah kelas, nilai kuliah
kelas dan praktik, serta nilai kuliah kelas, praktik, dan lapangan. Berdasarkan jenis
kelaminnya, untuk nilai kuliah kelas dan nilai kuliah kelas, praktik, dan lapangan
laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan, sedang untuk nilai kuliah kelas dan
praktik, perempuan lebih tinggi dibanding laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian
dapat diketahui bahwa nilai mahasiswa ketika pembelajaran tidak hanya merupakan
kuliah kelas mengalami kenaikan. Hal ini ditunjukkan dengan rerata nilai kelas ketika
pembelajaran dilakukan dengan kuliah kelas dan praktik, nilai rerata menjadi 90,72
(sebelumnya ketika hanya kuliah kelas hanya 56,92). Dapat dikatakan bahwa prestasi
belajar meningkat dengan kegiatan lebih dari kuliah kelas.
Peningkatan prestasi belajar mahasiswa diperoleh ketika kegiatan berubah
menjadi tidak lagi sekedar
menerima informasi (konvensional), tetapi lebih
menekankan pada praktik dan lapangan. Kegiatan praktik analisis data dan mencari
data di lapangan dimaksudkan agar kemampuan mahasiswa untuk berfikir kreatifkritis dapat meningkat. Praktik yang dilakukan berupa praktik analisis data di mana

78

data yang dianalisis merupakan data simulasi yang sudah disiapkan oleh pengajar
(peneliti). Kegiatan praktik analisi data ini kemudian dilengkapi dengan kegiatan
mencari data di lapangan yang menjadikan mahasiswa memiliki pengalaman
bagaimana memperoleh data. Praktik analisis data simulasi dan data riil terbukti
membuat mahasiswa tidak hanya mampu memahami konsep materi yang dipelajari
dalam mata kuliah, akan tetapi membantu mahasiswa menjadi mampu mengaplikasi
bahkan sampai menafsirkan hasil analisis data dengan bantuan komputer maupun
manual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa respon mahasiswa terhadap
pembelajaran kreatif-kritis cenderung lebih posotif dibanding dengan pembelajaran
konvensional, dan kegiatan implementasi model pembelajaran untuk meningkatkan
kemampuan berfikir kreatif-kritis terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar
mahasiswa dalam mata kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan
Akuntansi FISE UNY 2007 / 2008.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Respon mahasiswa terhadap pembelajaran kreatif-kritis cenderung lebih positif
dibandingkan menggunakan pembelajaran konvensional. Hal ini dibuktikan
dengan banyaknya komentar positif dalam angket yang diedarkan pada
mahasiswa peserta kuliah Metodologi Penelitian Bisnis Prodi Pendidikan
Akuntansi FISE UNY 2007 / 2008. Mahasiswa lebih giat dan bersemangat
dalam belajar yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan prestasi belajar.
2. Prestasi belajar mahasiswa dengan menggunakan model pembelajaran
kreatif-kritis meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai
rerata kelas. Nilai kelas yang dibagi dalam tiga kategori menunjukkan
peningkatan semua. Atau dapat dikatakan bahwa nilai teori, nilai teori dan
praktik, maupun teori, praktik, dan lapangan meningkat dengan adanya
implementasi model pembelajaran kreatif-kritis.
B. Saran.
Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian adalah:
1. Fasilitas belajar dilengkapi atau paling tidak ada pemerikasaan rutin
sehingga fasilitas yang ada akan mudah terpantau jika ada yang memerlukan
perbaikan atau penggantian.
2. Modul
diberikan
sebelum
kuliah
sehingga
mahasiswa
sudah
mempunyai gambaran mengenai apa yang akan dilakukan dalam kuliah.

DAFTAR PUSTAKA
Abu

Muhammad Ibnu Abdullah. 2008. Prestasi Belajar. http://spesialistorch.com/content/view/120/29/ diambil pata tanggal 5 Juli 2008.
Anonim. (2008). Humanistic. Didownload dari http://www.sparknotes.com/psychology/
personality/humanistic/section2.rhtml pada tanggal 30 Mei 2008.
Bozarth, Jerold D. (2008). A Functional Concept in Client-Centered Therapy.
Didownload
dari
http://www.users.muohio.edu/stileswb/readings/Bozath&Brodley1991.doc
pada tanggal 28 Me 2008.
Bulo, William, E.L. (2002). Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap
Kecerdasan Emosional Mahasiswa. Skripsi FE UGM.

79

Depdiknas. (2003). Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Direktorat


Pendidikan Menengah Umum.
Ennis. R.H. (1985). Goals for A Critical Thinking I Curriculum. Developing Minds A
Resource Book for Teaching Thinking. Virginia: Association for
Suopervisions and Curriculum Development (ASCD) pp. 54-57.
Galbreath J. (1999). Preparing the 21th Century Worker: The Link Between Computer
Based Technology and Future Skills. Educational Technology. Desember
1999 pp. 14-22
Goleman. Daniel, dkk. (2005). The Creative Spirit (terjemahan). Penerbit MLC:
Bandung.
Johnson. E.B. (2000). Contextual Teaching and Learning . California: Corwin Press,
Inc.
Kemmis S. & McTaggart C. (1988). The Action Research Planner. Deakin: Deakin
University Press
Liliasari. (2001). Model Pembelajaran IPA untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir
Tingkat Tinggi Calon Guru sebagai Kecenderungan Baru pada Era
Globalisasi. Jurnal Pengajaran MIPA No 2 (1). Juni 2001. hal 55 –
56.
Muslimin Ibrahim. (2008). Kecakapan Hidup: Keterampilan Berpikir Kritis.
Didownload dari http://kpicenter.web.id/neo pada tanggal 27 May, 2008.
Syaiful Azwar. (1988). Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Suwarsih Madya. (1994). Panduan Penelitian Tindakan. Yogyakarta: Lembaga
Penelitian IKIP YOGYAKARTA
Wadsworth, Barry J. (1985). Piagets Theory of Cognitive and Affective Development.
London: Longman.

80

Anda mungkin juga menyukai